Tampilkan postingan dengan label corak kebudayaan islam di indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label corak kebudayaan islam di indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2016

Corak Kebudayaan Islam Kota Demak, Jawa Tengah



Corak Kota Demak


Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa yang memegang peranan penting dalam upaya penyebaran ajaran Islam ke seluruh pelosok Nusantara. Kerajaan ini sebelumnya merupakan sebuah kadipaten kecil dari kerajaan Majapahit. Seiring runtuhnya pengaruh Majapahit dalam kancah Nusantara serta mulai tumbuhnya Islam di tanah Jawa, Demak pun berubah menjadi sebuah kerajaan Islam terbesar yang pernah. Berikut, pada artikel kali ini kami akan membahas tentang apa saja peninggalan Kerajaan Demak yang hingga kini masih terpelihara sebagai n eksistensinya di masa silam. Silakan disimak! Peninggalan Kerajaan Demak Kerajaan Demak berdiri pada tahun 1475. Bukti sejarah yang mengabarkan tentang keberadaan kerajaan ini di masa lalu sudah cukup banyak didapatkan. Adapun beberapa bukti lain yang berupa peninggalan bersejarah seperti bangunan atau benda-benda tertentu juga  masih terpelihara hingga sekarang. Beberapa bangunan atau benda peninggalan kerajaan Demak tersebut misalnya Masjid Agung Demak, Soko Guru, Pintu Bledeg, Bedug dan Kentongan, situs Kolam Wudlu, serta maksurah yang berupa pahatan atau ukiran indah.

1. Masjid Agung Demak Peninggalan Kerajaan Demak yang paling dikenal tentu adalah Masjid Agung Demak. Bangunan yang didirikan oleh Walisongo pada tahun 1479 ini masih berdiri kokoh hingga saat ini meski sudah mengalami beberapa renovasi. Bangunan ini juga menjadi salah satu bukti bahwa kerajaan Demak pada masa silam telah menjadi pusat pengajaran dan penyebaran Islam di Jawa. Jika Anda tertarik untuk melihat keunikan arsitektur dan nilai-nilai filosofisnya , datanglah ke masjid ini. Letaknya berada di Desa Kauman, Demak - Jawa Tengah.

2. Pintu Bledek Dalam bahasa Indonesia, Bledek berarti petir, oleh karena itu, pintu bledek bisa diartikan sebagai pintu petir. Pintu ini dibuat oleh Ki Ageng Selo pada tahun 1466 dan menjadi pintu utama dari Masjid Agung Demak. Berdasarkan cerita yang beredar, pintu ini dinamai pintu bledek tak lain karena Ki Ageng Selo memang membuatnya dari petir yang menyambar. Saat ini, pintu bledek sudah tak lagi digunakan sebagai pintu masjid. Pintu bledek dimuseumkan karena sudah mulai lapuk dan tua. Ia menjadi koleksi peninggalan Kerajaan Demak dan kini disimpan di dalam Masjid Agung Demak.
3. Soko Tatal dan Soko Guru Soko Guru adalah tiang berdiameter mencapai 1 meter yang berfungsi sebagai penyangga tegak kokohnya bangunan Masjid Demak. Ada 4 buah soko guru yang digunakan masjid ini, dan berdasarkan cerita semua soko guru tersebut dibuat oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Sang Sunan mendapat tugas untuk membuat semua tiang tersebut sendiri, hanya saja saat ia baru membuat 3 buah tiang setelah masjid siap berdiri. Sunan Kalijaga dengan sangat terpaksa kemudian menyambungkan semua tatal atau potongan-potongan kayu sisa pembuatan 3 soko guru dengan kekuatan spiritualnya dan mengubahnya menjadi soko tatal alias soko guru yang terbuat dari tatal.

4. Bedug dan Kentongan Bedug dan kentongan yang terdapat di Masjid Agung Demak juga merupakan peninggalan Kerajaan Demak yang bersejarah dan tak boleh dilupakan. Kedua alat ini digunakan pada masa silam sebagai alat untuk memanggil masyarakat sekitar mesjid agar segera datang melaksanakan sholat 5 waktu setelah adzan dikumandangkan. Kentongan berbentuk menyerupai tapal kuda memiliki filosofi bahwa jika kentongan tersebut dipukul, maka warga sekitar harus segera datang untuk melaksanakan sholat 5 waktu secepat orang naik kuda.

5. Situs Kolam Wudlu Situs kolam wudlu dibuat seiring berdirinya bangunan Masjid Demak. Situs ini dahulunya digunakan sebagai tempat berwudlu para santri atau musyafir yang berkunjung ke Masjid untuk melaksanakan sholat. Namun, saat ini situs tersebut sudah tidak digunakan lagi untuk berwudlu dan hanya bol



Daftar Pustaka:


Harun, M. Yahya. Kerajaan Islam Nusantara.1995. Yogyakarta. PT Kurnia Alam Sejahtera.
www.acehbooks.org/pdf/ACEH_03416.pdf diakses pada tanggal 30 Mei 2016

CORAK KEBERAGAMAN MUSLIM DI BANJARMASIN



CORAK KEBERAGAMAN MUSLIM DI BANJARMASIN

                                                               Sumber : news.detik.com

Kalimantan Selatan secara geografis terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan, dengan luas wilayah ±37.377,53 km 2 . Kota Banjarmasin dengan iklim tropis merupakan salah satu kota yang bersejarah di Salah satu desa di Banjarmasin, yaitu Kalampayan di Kabupaten Banjar. Bersemayam seorang ulama besar yang penting dalam sejarah berkembangnya Islam di tanah Banjar yaitu Syekh Arsyad al-Banjari. Kitab-kitabnya, terutama Sabilal Muhtadin, dipelajari oleh santri-santri di Indonesia hingga ke Thailand Selatan.
Berbicara “Islam Banjar” memang takkan terlepas dari figur Syekh Arsyad. Tak dapat dipungkiri, Syekh Arsyad memberikan warisan tradisi intelektual keagamaan yang sentral dalam perkembangan sejarah Islam di tanah Banjar. Ia bukan hanya seorang ulama “lokal” di tanah Banjar, melainkan juga seorang intelektual yang punya kontribusi signifikan dalam membangun tradisi pengetahuan keagamaan nusantara, bahkan hingga Asia Tenggara.


                                          sumber: ancha81.wordpress.com
 Sedangkan masyarakat Banjar atau yang lazim disebut “Urang Banjar”, yan sebagian besar berasal dari Kalimantan selatan khusunya Banjarmasin, hidup berdampingan dengan material budaya yang berkaitan dengan religi melalui beberapak akulturasi maupu asmilasi. Meskipun begitu, pandangan islam tetaplah yang menjadi kunci utama apalagi yan berkaitan tentang Ketuhanan, walaupun dalam kehidupan sehari-hari masih memiliki unsur Kepercayaan terdahulu, yaitu Hindhu dan Buddha.

Banyak budaya yang berkembag di Banjar yang tentunya berkaitan dengan agama iIslam, diantaranya Baayaan Maulid yang dimanaBaayun asal kata ayun yang artinya melakukan proses ayunan, dan maulid yang tentuny bermakna maulid Nabi Muhammad S.A.W. Tradisi ini merupakan tradisi yang diIsamisasikan dari tradisi sebelumnya yaitu baayun anak, namun setelah perjuangan dakwah para ulama di sana akhirnya upacara ini dapat diganti dengan sebuah acara keagamaan islam.
Selain itu budaya dalam pernikahan Urang Banjar yang memiliki hubungan dengan Islam adalah “Batamat Al-Quran” yang dimana kedua calon mempelai pada waktu menjelang disandingkan, keduanya harus membaca 22 surah dalam Al-Quran yang biasanya dari surah Ad-Dhuha sampai dengan An-Naas dan ditambah beberapa surah lainnya dan setelahnya ditutup dengan do’a khatam Al-Quran. Uniknya dari tradisi ini, biasanya ketika kedua pegantin mulai mebacakan surah Al-Fiil maka para anak-anak dan remaja akan ramai-ramai merebutkan telur masak yang konon dipercaya dapat membuat hati terang dan menjadi pandai dalam membaca Al-Quran

                                              sumber: ancha81.wordpress.com
Terakhir, kami akan membahas salah satu masjid tertua yang berada di Kalimantan Selatan. Masjid ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah yang mana merupakan raja Banjar pertama yang memeluk Islam, yaitu Masjid Sultan Suriansyah atau Masjid Kuin, karna berada di Kelurahan Kuin Utara, kawasan yang dikenal sebagai Banjar Lama yang menjadi situs Ibu Kota Kesultanan Banjar yang pertama.masjid ini memiliki arsitektur khas Banjar, yang dimana masjid yang berdiri di tepi sungai Kuin ini memiliki konstruksi panggung dan beratap tumpeng, dan pada bagian mihrab masjid memiliki atap yang terpisah dengan bangunan utama.




Daftar Pustaka:
Umar, Ahmad Rizky Mardhatillah. 2015. Islam Banjar, Islam Nusantara. Tersedia di pindai.org

Pram. 2013. Suku Bangsa Dunia dan Kebudayaanya. Unknown. CIF

Corak Kebudayaan Islam Kota Surakarta, Jawa Tengah



CORAK KEBUDAYAAN ISLAM KOTA SURAKARTA, JAWA TENGAH

Masjid Agung Surakarta Sebagai Pusat Kebudayaan Islam di Solo
           
Dahulu masjid ini bernama Masjid Agung Keraton Hadiningrat dan dibangun pada sekitar tahun 1749 oleh Pakubuwono III. Masjid ini terletak di sekitar alun-alun Utara Keraton Surakarta. Masjid ini memiliki peranan yang sangat penting dalam penyebaran Islam di Solo. Berdiri di atas lahan seluas hampir 1 hektare, bangunan utama masjid yang berukuran 34,2 meter x 33,5 meter mampu menampung sekitar 2000 jamaah. Sepanjang perjalanannya, masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi atau perbaikan dan penambahan.
            Bangunan pertama yang dibuat adalah bagian utama masjid, Penambahan pertama dilakukan oleh Pakubuwono IV yang memberikan kubah berbentuk paku bumi khas Jawa. Penambahan berikutnya dilakukan oleh Pakubuwono X yang membuat menara di sekitar masjid dan jam matahari untuk menentukan waktu shalat. Pintu utama masjid pun diubah menjadi corak khas Timur Tengah.
            Pakubuwono XII membangun kolam di sekitar masjid dengan tujuan agar siapapun yang masuk ke dalam masjid dalam keadaan suci. Namun kolam tersebut tidak lagi difungsikan dengan berbagai alasan. Beliau juga membangun ruang keputren dan serambi di bagian depan. Penambahan terakhir dilakukan oleh pemerintah Surakarta, ada poliklinik, perpustakaan, dan kantor pengelola.

            Pada masa lalu pengurus masjid ini merupakan abdi dalem keraton, namun saat ini hanya kepala pengurus masjid saja yang merupakan seorang abdi dalem keraton. Masjid ini sampai sekarang menjadi pusat kebudayaan islam di Solo dan menjadi tempat pusat tradisi Islam seperti sekaten dan maulid nabi.
Tradisi Sekaten
SekatenmerupakanperingatankelahiranNabi Muhammad dalambentuk ritual upacaraadat yang digelarolehduakeratonanakkerajaanMataram, yakniNgayogyakartoHadiningrat (Yogyakarta) dan Surakarta Hadiningrat (Solo). Terdapatsejumlahkesamaandanperbedaandalamupacara di duakeratontersebut.


Menyimak sejarah versi masing-masing, ditemukan kenyataan bahwa kedua keraton berbagi cerita sejarah mengenai asal-muasal lahirnya tradisi Sekaten tersebut, yakni dimulai pada masa Kesultanan Demak (abad ke-16), dan merupakan sebentuk upaya dakwah yang dilakukan para Wali melalui pendekatan seni-budaya.
Nafas seni-budaya sangat terasa dalam ritual upacara adat-keagamaan ini, dimana gamelan menjadi unsur penting di kedua keraton. Di keraton Yogya, gamelan Skatenter diri dari dua perangkat, yakni gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu. Di keraton Surakarta, dua perangkat gamelan yang menjadi bagian dalam ritual Sekaten bernama Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Di dua keraton tersebut, sejak beberapa hari sebelum 12 Robiul Awal (Maulud) gamelan akan dimainkan. Bedanya, di keratonYogya, prosesi dimulai pada tanggal 6 Rabiul Awal (Maulud), sementara di keraton Surakarta sehari lebih awal, yakni 5 Rabiul Awal (Maulud).
Selama kurang lebih satu minggu, di Masjid Agung masing-masing keraton, gamelan-gamelan tersebut dimainkan. Selama itu pula seputaran Masjid Agung ramai dengan hiruk-pikuk pedagang dan warga yang ingin menyaksikan. Dalam tradisi keraton Yogyakarta, sejak sebulan sebelumnya, biasa juga digelar pasar malam dalam rangka memeriahkan upacara adat-keagamaan ini, sehingga Sekaten juga dikenal dengan sebutan Pasar Malam Perayaan Sekaten.
Pada 12 Rabiul Awal (Mulud), pagi menjelang siang,  digelar prosesi Gerebeg Gunungan atau Gerebeg Mulud sebagai puncak Sekaten di masing-masing keraton. Gunungan sendiri merupakan istilah untuk aneka panganan yang disusun menyerupai gunung, yang melambangkan kesuburan dan kesejahteraan dua kerajaan Mataram tersebut. Aneka panganan dalam gunungan berupa hasil bumi, seperti buah-buahan, sayu-mayur, kue-kue, dan lain sebagainya. Di Keraton Surakarta, sepasang gunungan utama dikenal dengan sebutan Gunungan Kakung dan Gunungan Putri.
Warga yang sudah siap sedia sejak subuh tak jarang berebutan untuk mendapatkan aneka panganan dalam gunungan-gunungan tersebut. Bagi warga di lingkungan keraton, panganan-panganan itu lebih dari sekedar kudapan, melainkan sesuatu yang mengandung berkah, yang dianggap bisa membawa perlindungan dan kesejahteraan bagi yang memakannya. 

Daftar Pustaka